Wednesday, January 16, 2013

Pemimpin Adat Suku Baduy Dalam

Suku baduy dalam : Sepertinya tidak habis membahas keunikan dari budaya-budaya yang ada di Indonesia. Banyak hal yang bisa di pelajari dan menjadi bahan pelajaran untuk kita. Suku-suku adat yang saat ini masih lestari, haruslah menjadi bahan pelajaran untuk kita agar bisa belajar dari mereka. Suku baduy dalam adalah satu dari sekian banyak suku adata yang masih ada di Indonesia ini. Mereka memiliki kehidupan yang sangat mempertahankan budaya nenek moyang.

Kali ini sukubaduydalam.blogspot.com mau berbagi pemimpin adat suku baduy dalam. Suku baduy dalam terbagi ke dalam tiga desa yaitu : Cibeo, Cikatawarna, cikeusik. Sebetulnya kalau di gabung dengan suku baduy luar, jumlah seluruh desa yang ada jumlahnya 57 desa. Masing-masing desa ini di pimpin oleh seorang Jaro. Sedikit tambahan untuk suku baduy dalam, selain ada Jaro, mereka juga mengenal namanya Pu’un.

Di bawah ini adalah beberapa nama Jaro beserta nama desa nya :
Suku baduy dalam :

1. Desa Cibeo di pimpin oleh Jaro Sami
2. Desa Cikatawarna di pimpin oleh Jaro Jaming
3. Desa Cikeusik di pimpin oleh Jaro Alim

Suku baduy luar :
1. Jaro Dainah
2. Jaro Sedi
3. Jaro Arji

Suku baduy dalam selain ada Jaro, juga mengenal adanya Pu’un. Konon Pu’un secara strata social lebih tinggi di banding Jaro. Tentu memiliki peranan yang lebih penting juga.

1. Desa Cibeo di pimpin Pu’un Jasdi
2. Desa Cikatawarna di pimpin Pu’un Sangsang
3. Cikeusik di pimpin Pu’un Yasih

Pu’un adalah orang yang di yakini memiliki kelebihan yang berbeda di banding warga biasa. Mereka adalah tempat rujukan warganya. Dari mulai menentukan kapan masa tanam dan kapan masa panen. Serta yang berhak menerapkan hukum adat, mengobati yang sakit, dan menentukan kapan masuk waktu Kawalu, yaitu masa puasa untuk warga Baduy.

Karena posisinya sebagai pemimpin, Pu’un sangat memiliki prioritas utama di tengah warganya. Kata-katanya sangat di dengar oleh seluruh warga. Kebiasaan Pu’un adalah menyendiri dalam kurun waktu biasanya berminggu-minggu. Mereka jarang sekali keluar rumah sehingga memiliki tempat mandi tersendiri. sedangkan secara umum warganya mandi di sungai.
 

Powered By Blogger

Pemimpin Adat Suku Baduy Dalam

Suku baduy dalam : Sepertinya tidak habis membahas keunikan dari budaya-budaya yang ada di Indonesia. Banyak hal yang bisa di pelajari dan menjadi bahan pelajaran untuk kita. Suku-suku adat yang saat ini masih lestari, haruslah menjadi bahan pelajaran untuk kita agar bisa belajar dari mereka. Suku baduy dalam adalah satu dari sekian banyak suku adata yang masih ada di Indonesia ini. Mereka memiliki kehidupan yang sangat mempertahankan budaya nenek moyang.

Kali ini sukubaduydalam.blogspot.com mau berbagi pemimpin adat suku baduy dalam. Suku baduy dalam terbagi ke dalam tiga desa yaitu : Cibeo, Cikatawarna, cikeusik. Sebetulnya kalau di gabung dengan suku baduy luar, jumlah seluruh desa yang ada jumlahnya 57 desa. Masing-masing desa ini di pimpin oleh seorang Jaro. Sedikit tambahan untuk suku baduy dalam, selain ada Jaro, mereka juga mengenal namanya Pu’un.

Di bawah ini adalah beberapa nama Jaro beserta nama desa nya :
Suku baduy dalam :

1. Desa Cibeo di pimpin oleh Jaro Sami
2. Desa Cikatawarna di pimpin oleh Jaro Jaming
3. Desa Cikeusik di pimpin oleh Jaro Alim

Suku baduy luar :
1. Jaro Dainah
2. Jaro Sedi
3. Jaro Arji

Suku baduy dalam selain ada Jaro, juga mengenal adanya Pu’un. Konon Pu’un secara strata social lebih tinggi di banding Jaro. Tentu memiliki peranan yang lebih penting juga.

1. Desa Cibeo di pimpin Pu’un Jasdi
2. Desa Cikatawarna di pimpin Pu’un Sangsang
3. Cikeusik di pimpin Pu’un Yasih

Pu’un adalah orang yang di yakini memiliki kelebihan yang berbeda di banding warga biasa. Mereka adalah tempat rujukan warganya. Dari mulai menentukan kapan masa tanam dan kapan masa panen. Serta yang berhak menerapkan hukum adat, mengobati yang sakit, dan menentukan kapan masuk waktu Kawalu, yaitu masa puasa untuk warga Baduy.

Karena posisinya sebagai pemimpin, Pu’un sangat memiliki prioritas utama di tengah warganya. Kata-katanya sangat di dengar oleh seluruh warga. Kebiasaan Pu’un adalah menyendiri dalam kurun waktu biasanya berminggu-minggu. Mereka jarang sekali keluar rumah sehingga memiliki tempat mandi tersendiri. sedangkan secara umum warganya mandi di sungai.